Skip to main content
Arief

Arif Supriyadi, Lurah Belimbing 2013 - 2015

Perencanaan yang baik, kunci keberhasilan suatu kegiatan. Hal Ini rupanya disadari benar Arif Supriyadi dalam menjalani pekerjaannya sebagai seorang lurah. Sebelum mulai berangkat bekerja, perencanaan matang sudah disiapkannya di rumah.

Rencanakan Kerja dari Rumah

Pria kelahiran Jakarta, 29 tahun lalu ini sudah terbiasa bangun pukul 05.30 Wita. Selepas salat Subuh, Arif beranjak ke meja kerja di ruang tamunya untuk membuat perencanaan. Dia duduk merencanakan apa saja kegiatan yang akan dilakukannya selama hari itu. Semua rencana itu ditulisnya dalam buku kecil yang setia menemaninya setiap saat.

“Ada buku kecil berisi rencana kegiatan saya. Bagi saya, membuat perencanaan itu penting. Dari situ, saya bisa mengetahui kegiatan-kegiatan yang perlu saya lakukan, sehingga tidak ada yang terlewat,” kata Arif mengawali ceritanya.

Setelah perencanaan matang dibuat, sekira pukul 07.00 Wita Arif sudah mulai melakukan persiapan untuk berangkat ke Kantor Lurah Belimbing dengan kendaraan dinasnya. Dia selalu mengusahakan agar dapat tiba di kantor sebelum pukul 08.00 Wita. Karena pada jam tersebut, dia mesti memimpin apel kerja yang diikuti staf kelurahan.

“Apel kami lakukan setiap Senin sampai Kamis. Dalam apel ini kami melakukan perencanaan dan persiapan untuk kegiatan kelurahan dalam hari yang akan dijalani,” terangnya. Setelah apel, barulah masing-masing pejabat di kelurahan menempati dan melakukan tugasnya masing-masing, termasuk Arif sebagai lurah.

Kegiatan Arif sebagai lurah diisi dengan kegiatan di dalam dan luar ruangan. Bila tidak ada kegiatan, dia standby di kantor guna melakukan disposisi pada setiap pengurusan yang berlangsung di kelurahan. Sementara bila ada kegiatan-kegiatan kelembagaan di wilayahnya, Arif selalu mengupayakan dapat hadir di lokasi kegiatan. Misalnya kegiatan PKK, Sub PPKB, dan Posyandu Lansia. Sebagai lurah, Arif menyebut kehadirannya pada acara-acara tersebut perlu dilakukan dalam rangka silaturahmi dan memperkuat koordinasi dengan masyarakat.

“Minimal kehadiran saya untuk memberi sambutan. Saya akan tetap mengusahakan hadir walaupun waktu saya hanya sebentar. Dengan begitu masyarakat dapat mengetahui siapa lurah mereka, dapat tercipta hubungan yang baik sehingga timbul rasa memiliki. Kalau tidak seperti itu, jangan berharap masyarakat bisa respek pada kita sebagai pemimpin,” ujar Arif.

Ucapan Arif tersebut tampak pada kegiatan gotong royong warga RT 48 Belimbing, Sabtu (8/3) kemarin. Dalam kegiatan pembongkaran gorong-gorong di RT itu, Arif tak segan turun dan membantu warga membersihkan gorong-gorong. Dia turut membantu kebutuhan konsumsi bagi para warga yang bekerja. Bahkan di luar jam kerjanya sekalipun, Arif kerap meluangkan waktunya, baik menjadi penengah dalam permasalahan warga maupun menghadiri acara-acara yang diadakan warga.

“Setelah pulang kerja pukul 16.00 Wita, saya masih menghadiri acara-acara warga, bila saya diundang. Misalnya arisan PKK atau majelis taklim. Kegiatan ini sekaligus saya manfaatkan untuk melakukan sosialisasi program pemerintah,” urainya. Menurutnya, melalui silaturahmi yang dilakukannya, dapat menumbuhkan respek pada pemerintah.

Arif menyebut, arti lurah baginya adalah fasilitator antara masyarakat dengan pemerintah. Menurutnya, lurah menjadi perpanjangan tangan dan juga perpanjangan tangan masyarakat. Di satu sisi, lurah mesti menjalankan instruksi-instruksi dari atasan, sementara di sisi lain lurah mesti mendengar keinginan-keinginan warganya. Berbeda dengan kepala desa yang dipilih warga, tanggung jawabnya secara penuh kepada warga.

“Karena itu, lurah mesti pintar-pintar dalam menempatkan diri. Karena kalau tidak begitu, bisa kena timpuk dari atas maupun dari bawah,” kata dia.

Dengan kondisi seperti itu, Arif menyebut pekerjaan sebagai lurah adalah suatu seni. Yaitu seni menghadapi masyarakat dengan berbagai problemanya. Utamanya dalam menjadi fasilitator antara masyarakat dengan pemerintah. Meski begitu, dia mengaku belum banyak menguasai seni tersebut. “Saya masih belajar seni itu, dan saya mesti banyak belajar,” tandas ayahanda Diva Ayesha Zigri ini. 

Mimpi Jadi Guru, Malah Jadi Lurah

TAK pernah terlintas di benak Arif berkeinginan menjadi seorang lurah atau pejabat pemerintah. Cita-citanya dulu justru ingin menjadi seorang dosen atau guru pendidik. Namun, jalan hidup membawanya menjadi abdi negara, setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di 2006.

Arif berkisah, selepas SMA dia berkeinginan melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Karenanya dia mengikuti seleksi masuk Unair dan berhasil diterima. Selain mengikuti seleksi Unair, dia juga mengikuti seleksi penerimaan di STPDN dan juga berhasil diterima.

“Saat itulah saya dihadapkan pada pilihan hidup. Mesti memilih kuliah di Unair atau di STPDN. Karena keterbatasan biaya, saya berpikir realistis dan memilih menempuh pendidikan di STPDN,” kenang sulung dari tiga bersaudara ini.

Setelah lulus dari STPDN di 2006, Arif langsung ditempatkan menjadi staf tata pemerintahan di Kelurahan Lhoktuan, Bontang Utara. Kariernya terus menanjak dengan menjadi Kepala Seksi Tata Pemerintahan Lhoktuan di 2009. Barulah pada 2011, dia pertama kali mencicipi jabatan lurah, dipercaya menjadi lurah di Lhoktuan hingga pertengahan 2013 lalu. Sebagai lurah Lhoktuan, Arif berhasil mencatatkan prestasi dengan terpilih sebagai Lurah Berprestasi Tingkat Kota Tahun 2012, dan Peringkat Empat Lurah Berprestasi tingkat Kaltim 2013.

“Penilaian lurah berprestasi ini melihat pada pembinaan administrasi kantor lurah, dan juga bagaimana pemberdayaan masyarakat. Mungkin tim penilai melihat kemampuan saya dan saya dipilih jadi lurah berprestasi,” kata Arif.

Kini, sejak gerbong mutasi dilakukan pertengahan 2013 lalu, Arif dipercaya menjabat Lurah Belimbing, Bontang Barat. Menurutnya, wilayah Lhoktuan dan Belimbing memiliki perbedaan mencolok, terutama dalam hal pengurusan izin. Dia menyebut, masing-masing kelurahan memiliki karakteristiknya masing-masing dan memiliki pendekatan yang berbeda-beda pula.

“Dari sinilah saya belajar bagaimana menangani setiap permasalahan. Saya jadi tahu seni menangani suatu persoalan, dan pengalaman di Lhoktuan bisa saya terapkan di Belimbing bila memang sesuai,” terang suami dari Santi Martayanti ini.

Dituturkannya, suka duka mengiringi perjalanannya sebagai lurah. Rasa suka didapatinya bila masyarakat bisa tersenyum lega karena masalah dapat terselesaikan. Baginya, melihat kebahagiaan masyarakat merupakan kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dia menjadi ikut bahagia bila hal itu terjadi.

“Misalnya ada mediasi yang dilakukan kelurahan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat dan kasusnya terselesaikan,” sebut Arif.

Sementara dukanya, waktu bersama keluarga tentu menjadi berkurang. Karena jam kerja lurah berbeda dengan pejabat struktural biasa. Sebagai lurah, dia dituntut turun tangan bila terjadi permasalahan di masyarakat. Duka lainnya, dia pernah mendapat protes dari warga saat menjabat Lurah Lhoktuan. Saat itu dia dituding tidak membolehkan warga menggunakan Balai Pertemuan Umum (BPU) Lhoktuan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti misalnya pernikahan. Padahal, dia tidak pernah memberikan larangan tersebut.

“Saya membolehkan kok. Mungkin warga salah paham karena melihat adanya sekat-sekat ruang kantor di dalam BPU. Mereka mengira keberadaan sekat-sekat untuk ruang kantor tersebut menunjukkan saya melarang. Padahal bukan begitu, sekat-sekat itu dibuat karena ruangan di kantor lurah masih kurang. Nah, saya membolehkan warga memakai BPU, selama bisa mengatasi persoalan ruang di BPU tersebut, apakah mengganggu acara mereka atau tidak,” beber Arif.

Dia mengaku, menjadi lurah menimbulkan kesan tersendiri dalam hidupnya. Menurutnya, dengan menjadi lurah dia mendapat kesempatan belajar yang luar biasa. Karena menjadi lurah membuatnya harus menguasai beragam jenis masalah. Di sini, dia dituntut memiliki wawasan yang luas. Bahkan dia menyebut keinginannya untuk menjadi guru sudah terwujud dalam kapasitasnya sebagai lurah.

“Kalau guru itukan membina siswa, anak-anak didiknya. Nah, kalau lurah itu membina masyarakat,” tegasnya.

Ajak Keluarga Pergi Mancing

MENJADI lurah membuat waktu yang dimiliki Arif untuk istri dan anaknya menjadi bekurang. Bahkan karena itu, dia mengaku awalnya sang istri sulit mendukung kariernya sebagai lurah. Namun, perlahan sang istri bisa menerima posisinya tersebut dan kini justru sangat mendukung pekerjaannya sebagai lurah.

Karena memiliki waktu yang terbatas itulah, Arif selalu berusaha memanfaatkan waktu kosongnya untuk dihabiskan bersama keluarga. Biasanya, dia selalu mengisi waktunya dengan kegiatan memancing ke laut.

“Karena sulit berkumpul dengan keluarga, maka saya maksimalkan waktu kosong saya untuk keluarga. Biasanya kami memancing ke laut atau bertamu ke rumah saudara. Waktu bersama keluarga mesti berkualitas,” cerita Arif.

Kegiatan memancing itu biasanya dilakukannya dua kali dalam sebulan. Tempat memancing yang menjadi favoritnya yaitu di perairan Bontang Kuala, sementara untuk kolam pemancingan favoritnya di daerah KM 10. Menurutnya, memancing menimbulkan ketenangan sendiri, baik bagi dirinya pribadi maupun bagi keluarganya. Sang istri sendiri juga seorang pehobi mancing.

“Bagi saya memancing itu seni. Ada saatnya dapat ikan, ada pula saatnya tidak dapat ikan. Ada saatnya dapat ikan cepat, ada saatnya mesti menunggu lama. Di sini ada unsur rasa penasaran,” kata putra pasangan Tumadi dan Rusmini ini.

Alasan lain yang membuatnya menggemari memancing karena dia suka melihat air dalam jumlah banyak, seperti wilayah laut. Karena menurutnya, dengan melihat air tersebut, dapat menciptakan suasana nyaman dan tenteram di hati. Ikan-ikan hasil tangkapannya lantas dibawa ke rumah kerabat untuk dibakar dan dinikmati bersama-sama.

Selain memancing, Arif juga gemar membaca. Bagi Arif, membaca merupakan hal mengasyikkan yang bisa menambah wawasan. Buku-buku yang digemarinya yaitu buku-buku politik yang menceritakan strategi-strategi seseorang mendapatkan kekuasaan. Cara-cara yang ditempuh tokoh tersebut untuk mencapai keinginannya tersebut kata Arif sangat menarik untuk diikuti.

“Kisahnya bisa ditiru, diterapkan dalam peran saya sebagai lurah. Pada prinsipnya banyak hal yang bisa diteladani dari kisah mereka.,” tutur Arif. Salah satu buku yang disukainya yaitu The Hundred, Seratus Orang Paling Berpengaruh di Dunia karya Michael Hart. (/*lukman maulana)

Sumber