Skip to main content
kim

Muhammad Ihsan, SSTP Lurah Belimbing 2015 - Sekarang

LAKSANA anak kecil yang sibuk mondar mandir di depan orang tuanya, awan mendung terus menutupi matahari. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi namun awan itu masih gigih memberikan suasana sendu kepada warga Bontang.

Di tepi perumahan BTN PKT tepatnya di Jalan Abdul Rauf nomor 40 sebuah berdiri kompleks kantor Kelurahan Belimbing terdiri dari 3 bangunan. Berfungsi menaungi masyarakat Belimbing yang sebanyak 11 ribu jiwa di dalamnya terdapat seorang pria pemilik kumis halus berusia usia 33 tahun yang pada bulan lalu diamanatkan Walikota Bontang Neni Moerniaeni meneruskan jabatannya sebagai lurah. Dia lah Muhammad Ihsan, Lurah Belimbing saat ini.

Di ruangan bernuansa hijau, dia duduk membelakangi jendela menghadap ke meja yang dihiasi dokumen-dokumen kerjanya sebagai lurah. Ihsan yang lahir di Banua Lawas Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan itu memutuskan hijrah dari kampung halamannya pada 2002 lalu ke Bontang saat masih berstatus pelajar kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA).

Berawal dari keinginannya mendapatkan serta merasakan suasana yang baru, dan keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih, dirinya menerima ajakan sang paman untuk pindah ke Kota Taman kala itu. Melanjutkan pendidikan kelas 3 di SMA Negeri 1 Bontang dengan penuh harap ia menjalani hari-hari di kota ini untuk menemukan sesuatu yang baru, pengalaman baru, wawasan baru, lingkungan yang baru segala sesuatu serba baru di matanya.

“Saya berprinsip untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari sebelumnya,” tutur dia.

Sebisa mungkin dia berhubungan dengan orang tuanya di kampung, sampai saat ini tiada hari tanpa mengabari keluarganya untuk sekedar bersilaturahmi. Ihsan muda yang telah ditinggal mendiang ayahnya ketika masih umur 3 tahun, berpikiran tidak ingin lagi membebani ibunya yang sehari-sehari berkerja sebagai wiraswasta.

Tidak pernah terbayang olehnya berkerja sebagai abdi negara, dikarenakan untuk itu ia harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Uang lagi uang lagi pikirnya. Dia hanya fokus untuk menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan mendapatkan pekerjaan yang bisa mengurangi bebannya di dalam keluarga.

“Asumsinya untuk jadi PNS harus kuliah dan membutuhkan dana yang tidak sedikit,” ujar Ihsan. 

Secercah harapan muncul, pamannya lagi-lagi membawa kabar gembira ada sekolah tinggi yang memberikan beasiswa penuh kepada para pelajarnya. Bermodalkan tekad dan ketekunan mempersiapkan segala sesuatu agar mendapatkan bangku di institusi tersebut, ia pun tanpa lelah dan keluh terus mengasah pengetahuannya.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), itulah tujuannya selanjutnya. Berbagai tahap seleksi diberikan oleh pihak institusi untuk menyaring para calon mahasiswa. Di 2003, akhirnya pengumuman yang di tunggu datang juga, pemberitahuan dirinya lolos mengikuti perkuliahan dengan beasiswa penuh memberikan harapan kepada Ihsan muda yang tengah tersenyum lebar.

Bermodalkan restu dan doa dari keluarga serta pengetahuan miliknya, 4 tahun masa perkuliahan ia selesaikan. Selama kuliah di IPDN, Ihsan muda memanfaatkan waktunya untuk menambah wawasan dan memberikan pengabdian nyata kepada masyarakat sekitar. Walaupun ia terpilih sebagai anggota dari Biro Hukum dan Personalia, lebih banyak ia aktif di Biro Kerohanian Islam.

Terpilih sebagai Ketua Dompet Peduli Umat, dirinya bertugas mengelola dana sumbangan yang diberikan para mahasiswa atau praja untuk disalurkan kepada kegiatan-kegiatan yang dapat membantu masyarakat sekitar kampus. Mulai dari pemberian bantuan kesehatan, sembako, beasiswa dan pengajaran baca dan menulis Al quran menjadi salah satu kesibukannya kala itu.

“Lebih aktif di kegiatan dan bantuan sosial, khususnya untuk masyarakat sekitar kampus,” ungkap ayah anak 2 tersebut.

Pelayanan kepada masyarakat yang ia tempa semenjak masa perkuliahan dulu, saat ini menjadi modal yang terus dibawanya ketika bertugas sebagai aparatur negara. Sepuluh tahun sudah ia mengabdi kepada kota yang membantunya mewujudkan keinginannya. Empat kelurahan di Bontang telah ia sambangi sebagai bentuk pengabdian.

Jabatan lurahnya menjadi kekhawatiran bagi keluarga kecil miliknya yang telah dikaruniai 2 orang anak. Dengan tanggung jawab yang lebih, tentu saja juga akan menyita waktunya bersama keluarga. Meskipun begitu, ia bisa dengan tenang meyakinkan keluarganya jika jabatan yang disematkan kepadanya telah menjadi amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya.

Di ruangan hijau itu, ia duduk dengan sabar menghadapi berbagai pertanyaan yang dilontarkan sembari menghabiskan waktu menunggu rapat selanjutnya di kantor Kecamatan. Dirinya berharap dapat membangun Kelurahan Belimbing sejalan dengan visi misi yang dimiliki Kota Bontang dan mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Prinsipnya, dimanapun kami ditempatkan disanalah kita berbuat sebaik-baiknya,” tutupnya.(*)

Sumber